Penulis, IT, dan Analis Data. Berpengalaman memecahkan masalah kompleks dengan solusi kreatif yang efektif.
Cek selengkapnya disini 📋
Tulisan Random
Rekam Jejak Plus UI Blogger Template: Ketika "Lifetime Support" Berubah Arah

Barusan, sebuah email mendarat di kotak masuk saya dari pengembang Plus UI, salah satu template Blogger yang cukup populer di kalangan publisher. Email tersebut berisi pengumuman penting mengenai kelanjutan proyek Plus UI yang sempat dinyatakan discontinue, namun kini diaktifkan kembali dengan filosofi yang sepenuhnya baru.


Sebagai pengguna yang mengikuti perkembangan template ini, saya merasa perlu mengarsipkan momen ini di sini—bukan untuk menyudutkan, melainkan sebagai catatan historis dan refleksi personal tentang dinamika industri produk digital lokal.



Pergeseran Aturan Main di Tengah Jalan


Dalam email resminya, pihak developer (Fineshop Themes) menyatakan bahwa Plus UI akan terus di-maintain dengan fokus pada stabilitas, perbaikan bug, dan efisiensi kode. Salah satu keputusan besarnya adalah menghapus fitur AMP yang dinilai terlalu kompleks untuk dirawat dalam jangka panjang.


Namun, poin yang paling krusial dan memicu pemikiran mendalam bagi saya adalah pernyataan tertulis mengenai kebijakan dukungan:


"Plus UI is a maintained project, but it is not sold with lifetime updates or lifetime support... Any future updates are provided at my discretion and should be considered a bonus, not a guarantee."


Bagi saya pribadi dan mungkin sebagian pembeli lama, poin ini terasa seperti sebuah shifting the goalpost (mengubah aturan main di tengah jalan). Mengapa? Karena pada awal masa pemasarannya, emblem Lifetime Support dan Lifetime Updates adalah salah satu nilai jual utama yang ditawarkan kepada konsumen.



Bagi siapa pun yang berada di dalam komunitas atau grup Telegram resminya, dinamika di balik layar template ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Ada beberapa catatan penting yang perlu didokumentasikan terkait rekam jejak pengembangannya:

  • Konsistensi Kehadiran Developer: Salah satu keluhan terbesar komunitas selama ini adalah perilaku ghosting dari sang developer. Beberapa kali terjadi momen di mana developer tiba-tiba menghapus akun atau keluar (leave) dari grup Telegram ketika gelombang komplain atau laporan bug sedang tinggi, lalu muncul kembali beberapa waktu kemudian dengan akun baru (mode menyamar) atau rename menjadi akun asli ketika keadaan sudah tenang.
  • Kemandirian Komunitas: Karena absennya dukungan yang andal, komunitas pengguna Plus UI justru tumbuh secara mandiri. Selama ini, ketika terjadi error akibat pembaruan sistem Blogger atau bug itu sendiri, para anggotalah yang bergotong-royong mencari solusi bahkan tak sedikit user mencari solusi sendiri dengan memodifikasi kode, dan melakukan troubleshooting sendiri.
  • Isu Fondasi Kode (Codebase): Di luar masalah komunikasi, terdapat dugaan kuat dan diskusi panjang di ceruk komunitas bahwa Plus UI merupakan hasil kloning atau reverse-engineering dari Median UI (template legendaris karya Jagodesain). Kemiripan struktur dan UI yang terlalu identik ini sering kali memicu spekulasi bahwa developer Plus UI sendiri kesulitan melakukan maintenance mendalam karena tidak membangun arsitekturnya dari nol. Keputusan menghapus fitur berat seperti AMP tampaknya makin memperkuat indikasi tersebut.


Pelajaran Penting: Buy for What It Is Today


Pengumuman terbaru dari Plus UI ini sebenarnya memberikan satu pelajaran berharga bagi kita semua yang gemar membeli aset digital (template, plugin, maupun aplikasi): Jangan pernah membeli produk digital berdasarkan janji masa depan atau label "Lifetime", terutama dengan developer antah berantah yang tidak memiliki team, rekam jejak dan kemampuan yang valid diakui secara luas.


Beredarnya email pembatalan garansi seumur hidup secara sepihak ini membuktikan bahwa dalam bisnis digital independen, proteksi konsumen terhadap janji lifetime sangatlah lemah. Belilah sebuah produk karena fungsinya hari ini memang Anda butuhkan dan sudah bekerja dengan baik saat transaksi dilakukan.


Saat ini, dalam laporan teman-teman saya yang memakai Plus UI yang terpasang di memang masih berfungsi. Namun dengan arah kebijakan baru yang tidak menentu dan riwayat komunikasi developer yang tidak stabil, diversifikasi atau menyiapkan template alternatif yang lebih reliabel tampaknya menjadi langkah mitigasi yang bijak untuk jangka panjang.

Kesel sama Amartha karena mereka salah sasaran menghubungi saya untuk menanyakan keberadaan seseorang bernama Arianti Novitasari.
Sudah saya Jelaskan, kalau tidak mengenal, sudah bikin laporan juga via email, bahkan menjelaskan ke perwakilan mereka yang menghubungi tindak lanjut dari email yang saya kirim, dijanjikan akan update nomor sehingga tidak salah sasaran lagi, namun barusan saja ada telpon dari Amartha lagi yang nanyain orang yang sama, bahkan saya cek riwayat telpon juga kemarin ada nomor yang sama berawalan 0856-5751-xxxx (nomornya orang Amartha) yang gak sempet saya angkat karena lagi meeting project.

Hari ini saya email dan hubungi lagi petugas itu untuk memberikan ultimatum untuk tidak lagi menghubungi perihal menanyakan orang tersebut.

Sebenarnya
Semalam begadang dan gak ngantuk sama sekali karena otak lagi dipenuhi ide dan semangat untuk menambahkan fitur dalam web layanan usaha. Itu belum selesai 100% eh ini otak sudau dapet ide lagi untuk fitur lain, rasanya pingin eksekusi langsung, tapi untuk alur kerja yang sehat dan terfokus maka harus diselesaikan satu persatu dahulu sambil mematangkan strategi untukembuat fitur lainnya yang baru aja kepikiran.


Dikit-dikit disangka GPT hedeh
Lagi balesin postingan yang lewat di beranda orang nanya yang butuh jawaban serius dan butuh pertimbangan ekstra. Tiba-tiba, nemypil nih 1 anak bernama Nur Syarifudin yang saya duga ini akun cloningan dan second akun karena locked profile dan friendlist gak sesuai dengan keaktifannya di FB seperti screenshot ini
Yang bikin kesel tuh dengan netizen Indonesia di sosmed ya begini. Generasi Chat GPT menganggap tulisan orang yang panjang dan menguraikan penjelasan dengan EYD dan tanda baca yang tepat disangka hasil GPT atau AI Lain, padahal hasil tulisan apa yang ada dipikiran.

Jujur kadang suka gak habis pikir dengan orang yang model begini, hanya karena ia orang yang males baca tulisan panjang dan gak biasa nulis panjang-panjang maka suudzonnya tulisan panjang itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan manusia normal, padahal, tidak begitu, dengan orang yang hobby mengetik, atau punya banyak ide, maka menulis panjang itu bukan hal yang sulit, apalagi orang yang WPM (word per minute) nya tinggi diatas 100 WPM, maka apa yang diomongkan bisa saat itu juga diubah jadi tulisan sama seperti orang ngedikte di pengadilan, atau jurnalistik, dimana apa yang dikatakan oleh sumber maka secepat itu juga berubah jadi tulisan.

Sebagai Informasi, saya yang memang hidup di dunia tulisan bahkan punya dedicated keyboard portable yang selalu saya bawa dimanapun saya berada, jadi begitu pingin balesin komen atau ngetik panjang, atau nyicip bikin buku ya tinggal satset.

Selain diatas, ada banyak metode lain yang saya gunakan untuk mengetik cepat terutama jika tidak menggunakan dedicated keyboard seperti disaat dalam keadaan khusus, tekniknya menggunakan Swype, geser-geser jadi kata dan kalimat, bahkan kalau apa yang akan diketik tidak perlu dimodifikasi maka saya menggunakan metode transkrip voice to teks (TTS).

Jadi, harapan kami para penulis serius yang panjang lebar, stop judge orang nulis panjang dengan ejaan yang benar dengan tuduhan GPT atau AI, padahal anda belum merasakan begitu enaknya ngeforum atau diskusi serius seperti di forum-forum luar yang nanyanya jelas, jawabannya juga jelas. Gak sekalian tuh tulisan di forum luar jawab dengnan tuduhan GPT
Tiba-tiba ngerasa kangen dan pingin makan model cek rom, dulu ia adalah tetangga yang jual didepan rumah, rasanya khas sendiri beda dengan model buatan pedagang lain, cuko dan kuahnya juga beda. 

Rasanya besok pingin beli walah ia udah pindah jualan, tapi rasanya masih sama gak ya dengan yang dulu? 🤔

Ngomongin model jadi kangen juga sama model yang dulu jualan depaj pesantren Ar Riyadh. Ini juga enak, dulu saya suka beli setengah dan ia boleh beli setengahan, mungkin karena target konsumennya adalah anak pondok pesantren yang mungkin harus berhemat, namun sayang beliau ini sudah gak jualan lagi, kabarnya udah berpulang 😭 alfatihah untuk beliau. 
Berapa hari ini sibuk ngoding membangun sistem terintegrasi terintegrasi secara digital, tujuan awal hanya mau bikin sistem formulir pendaftaran dan pendataan online, akhirnya berkembang ke sistem absensi, member, locking, logging, payment, notifikasi, dan lainnya.
Sistem ini, direncanakan besok launching, sudah test bug dan skema dummy sample semua sudah difix dan berjalan normal, terakhir bikin aplikasi android agar ngewarning penggunaan baterai agar tenaga pengajar tidak kehabisan baterai dan dapat memantau kesehatan baterai termasuk notif boros, baterai low dan penuh. 

Karena keasikan ngoding dan menuangkan ide menjadi nyata akhirnya semua berkembang sedemikian pesat. Sekarang semua sudah selesai eh malah ngerasa hampa, saatnya istirahat pikiran malah pingin mutar otak lagi maunya ada yang dikerjakan. 
Semalaman gak bisa tidur karena angin kipas dan suaranya kenceng banget, mana sempit karena ada bocah tidur disebelah rusuh banget, akibatnya dari pagi hidung dah mampet kepala pusing dan mual. 😣
🏠
☀️
🔍
📧
×

Hubungi Saya

0/3000