Penulis, IT, dan Analis Data. Berpengalaman memecahkan masalah kompleks dengan solusi kreatif yang efektif.
Cek selengkapnya disini 📋
Tulisan Random
pelanggaran batas batas respek (boundaries)
Sikap mengalah saya tanpa sengaja telah "mendidik" dia bahwa dia bisa lolos dari kesalahan tanpa konsekuensi serta membuatnya seolah. Bahkan saat ia merasa benar tidak akan pernah mendengar nasihat karena nasihat hanya akan dianggap sebagai "serangan" yang membuatnya semakin egosentris
Petugas kesehatan nirempati terhadap pasien
Berapa hari belakangan ini berita sedang ramai tentang Pasien yang menulis status menunggu 8 Jam menunggu penanganan langsung, ia adalah pasien BPJS dan tidak ingin mengungkapkan nama RS nya. Postingan ia sontak ramai dengan berbagai macam reply, sayangnya lebih banyak menerima hujatan dan lebih disayangkan lagi hujatan itu datang dari berbagai tenaga medis itu sendiri. Kasus ini makin ramai karena belakangan pasien tersebut meninggal dunia.

Jujur saja, pada awalnya saya tidak tertarik untuk ikut berkomentar, karena menurut saya ini hal yang sering diperdebatkan tanpa ada penyelesaian. Namun hal tersebut berubah ketika ada utas lewat di beranda Facebook saya, disitu disertakan tanggapan layar seorang dokter yang dengan mulut super duper kasarnya mengomentari bahkan denial dengan apa effek yang telah ia timbulkan, ia merasa tidak bersalah dan dengan bangganya ia merasa telah berjasa semalaman, karena ada tangkapan layar ciutannya kalau ia shift malam begadang dari jam 02:30 pagi hingga jam 07:00 pagi melayani pasien, hati saya merasa tambah sedih, marah dan kecewa melihat postingan-postingannya yang lain, terlebih menganggap pasien BPJS adalah kelas bawah dipada asuransi swasta, dan membandingkan biaya BPJS yang ia bayar hanya 3% dari UMR, dan ia menantang netizen.

Disini, kita perlu ketahui dan memahami bahwa BPJS adalah ASURANSI WAJIB Warga Negara Indonesia, sehingga baik kelas bawah hingga nomor 1 presiden pun memiliki BPJS dan menggunakannya sehingga tidak perlu malu, Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D. dalam sebuah obrolan mendalam di Podcast Deddy Corbuzier (Close The Door). Ia juga menegaskan bahwa rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS tidak boleh memberikan pelayanan sembarangan karena terikat kontrak standar pelayanan jaminan kesehatan nasional. Jika Anda menemui pelanggaran seperti: pasien BPJS dibeda-bedakan atau dianaktirikan, rumah sakit menolak pasien dengan alasan "kamar BPJS penuh" (padahal aslinya kosong), Diminta membayar biaya tambahan (iur biaya) di luar ketentuan medis. Bahkan dalam kesempatan podcast tersebut pun beliau mengatakan seluruh pasien dapat mengadukan hal ini jika terjadi pada stand BPJS yang disediakan ditiap rumah sakit, dan jika tidak ada dapat disampaikan langsung, nantinya akan ada evaluasi bahkan status keanggotaan rumah sakit tersebut bisa dibekukan untuk kerjasama dengan BPJS.

Selain itu juga, kita perlu memahami bahwa BPJS bukan biaya berobat, kaprah ini timbul ketika orang yang sakit baru mau buat atau ngurus tunggakan BPJS dengan harapan uang yang dibayarkan premi tersebut lebih kecil dibanding manfaat yang ia terima, dari sinilah stigma negatif itu timbul sehingga menimbulkan asumsi bahwa pasien BPJS adalah pasien "miskin" atau "dianak tirikan", begitupun petugas medis yang merasa premi BPJS yang dibayar itu tidak full dan besar kepada rumah sakit untuk kasus tertentu sehingga merasa tidak perlu memberikan empati atau layanan yang lebih baik. Padahal, BPJS itu mengazaz dari tolong menolong, peserta BPJS meniatkan sedekah apa yang ia bayarkan perbulan yang akan diperuntukkan kepada mereka yang sedang sakit dan butuh biaya penanganan yang besar seperti tindakan operasi, begitupun sebaliknya jika amit-amit terjadi hal terhadap kita maka akan dibantu oleh anggota lain. Hal ini mengingatkan saya terhadap asuransi sejenis bernama Saling Jaga (yang sekarang sudah berubah namanya karena terkait izin resmi).

Apa yang dibicarakan dokter tersebut juga ada benarnya, hanya saja nirempati, kasar. Dan menurut saya pasien yang menulis postingan tersebut bukan komplen, hanya menuliskan statusnya saja sedang menunggu lama karena telah 8 jam menunggu namun belum dapat kamar, ia tidak mau menyebutkan lokasi RS karena ia menggunakan BPJS, artinya pasien tersebut sadar bahwa ada penumpukan pasien BPJS, ada birokrasi adinistrasi yang harus ditunggu dan dikabulkan BPJS dahulu terhadap layanan yang ia minta, bukan komplen Rumah sakitnya jelek atau tidak dilayani, dan ini balik lagi menjadi inti pembahasan kali ini yakni petugas berjas putih itu harusnya menenangkan, memberi empati, mengupayakan, bukan malah menyakiti, menghakimi dan ngata-ngatain.

Tadi pagi, saya juga barusan berpesan kepada keluarga saya, ketika ia mengajar nanti maka curi waktunya sebentar terutama terhadap mereka yang mengejar cita-cita jadi petugas kesehatan baik itu dokter, perawat dan lainnya. Saya berpesan kalau jadi dokter itu bukan karena gengsi, bukan karena mengharap gaji besar, karena dokter dan petugas kesehatan itu bekerja karena empati dan niat menolong, karena suka gak suka dari lubuk hati yang paling dalam maka anggota keluargamu terlebih ortumu berharap jika ia sakit nanti bisa ditolong oleh kamu sebagai anaknya yang menjadi petugas kesehatan, dan jika mengharap gaji atau gengsi maka stop, jangan jadi petugas medis, jadilah pengusaha yang mengejar kesuksesan.
Rekam Jejak Plus UI Blogger Template: Ketika "Lifetime Support" Berubah Arah

Barusan, sebuah email mendarat di kotak masuk saya dari pengembang Plus UI, salah satu template Blogger yang cukup populer di kalangan publisher. Email tersebut berisi pengumuman penting mengenai kelanjutan proyek Plus UI yang sempat dinyatakan discontinue, namun kini diaktifkan kembali dengan filosofi yang sepenuhnya baru.


Sebagai pengguna yang mengikuti perkembangan template ini, saya merasa perlu mengarsipkan momen ini di sini—bukan untuk menyudutkan, melainkan sebagai catatan historis dan refleksi personal tentang dinamika industri produk digital lokal.



Pergeseran Aturan Main di Tengah Jalan


Dalam email resminya, pihak developer (Fineshop Themes) menyatakan bahwa Plus UI akan terus di-maintain dengan fokus pada stabilitas, perbaikan bug, dan efisiensi kode. Salah satu keputusan besarnya adalah menghapus fitur AMP yang dinilai terlalu kompleks untuk dirawat dalam jangka panjang.


Namun, poin yang paling krusial dan memicu pemikiran mendalam bagi saya adalah pernyataan tertulis mengenai kebijakan dukungan:


"Plus UI is a maintained project, but it is not sold with lifetime updates or lifetime support... Any future updates are provided at my discretion and should be considered a bonus, not a guarantee."


Bagi saya pribadi dan mungkin sebagian pembeli lama, poin ini terasa seperti sebuah shifting the goalpost (mengubah aturan main di tengah jalan). Mengapa? Karena pada awal masa pemasarannya, emblem Lifetime Support dan Lifetime Updates adalah salah satu nilai jual utama yang ditawarkan kepada konsumen.



Bagi siapa pun yang berada di dalam komunitas atau grup Telegram resminya, dinamika di balik layar template ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Ada beberapa catatan penting yang perlu didokumentasikan terkait rekam jejak pengembangannya:

  • Konsistensi Kehadiran Developer: Salah satu keluhan terbesar komunitas selama ini adalah perilaku ghosting dari sang developer. Beberapa kali terjadi momen di mana developer tiba-tiba menghapus akun atau keluar (leave) dari grup Telegram ketika gelombang komplain atau laporan bug sedang tinggi, lalu muncul kembali beberapa waktu kemudian dengan akun baru (mode menyamar) atau rename menjadi akun asli ketika keadaan sudah tenang.
  • Kemandirian Komunitas: Karena absennya dukungan yang andal, komunitas pengguna Plus UI justru tumbuh secara mandiri. Selama ini, ketika terjadi error akibat pembaruan sistem Blogger atau bug itu sendiri, para anggotalah yang bergotong-royong mencari solusi bahkan tak sedikit user mencari solusi sendiri dengan memodifikasi kode, dan melakukan troubleshooting sendiri.
  • Isu Fondasi Kode (Codebase): Di luar masalah komunikasi, terdapat dugaan kuat dan diskusi panjang di ceruk komunitas bahwa Plus UI merupakan hasil kloning atau reverse-engineering dari Median UI (template legendaris karya Jagodesain). Kemiripan struktur dan UI yang terlalu identik ini sering kali memicu spekulasi bahwa developer Plus UI sendiri kesulitan melakukan maintenance mendalam karena tidak membangun arsitekturnya dari nol. Keputusan menghapus fitur berat seperti AMP tampaknya makin memperkuat indikasi tersebut.


Pelajaran Penting: Buy for What It Is Today


Pengumuman terbaru dari Plus UI ini sebenarnya memberikan satu pelajaran berharga bagi kita semua yang gemar membeli aset digital (template, plugin, maupun aplikasi): Jangan pernah membeli produk digital berdasarkan janji masa depan atau label "Lifetime", terutama dengan developer antah berantah yang tidak memiliki team, rekam jejak dan kemampuan yang valid diakui secara luas.


Beredarnya email pembatalan garansi seumur hidup secara sepihak ini membuktikan bahwa dalam bisnis digital independen, proteksi konsumen terhadap janji lifetime sangatlah lemah. Belilah sebuah produk karena fungsinya hari ini memang Anda butuhkan dan sudah bekerja dengan baik saat transaksi dilakukan.


Saat ini, dalam laporan teman-teman saya yang memakai Plus UI yang terpasang di memang masih berfungsi. Namun dengan arah kebijakan baru yang tidak menentu dan riwayat komunikasi developer yang tidak stabil, diversifikasi atau menyiapkan template alternatif yang lebih reliabel tampaknya menjadi langkah mitigasi yang bijak untuk jangka panjang.

Kesel sama Amartha karena mereka salah sasaran menghubungi saya untuk menanyakan keberadaan seseorang bernama Arianti Novitasari.
Sudah saya Jelaskan, kalau tidak mengenal, sudah bikin laporan juga via email, bahkan menjelaskan ke perwakilan mereka yang menghubungi tindak lanjut dari email yang saya kirim, dijanjikan akan update nomor sehingga tidak salah sasaran lagi, namun barusan saja ada telpon dari Amartha lagi yang nanyain orang yang sama, bahkan saya cek riwayat telpon juga kemarin ada nomor yang sama berawalan 0856-5751-xxxx (nomornya orang Amartha) yang gak sempet saya angkat karena lagi meeting project.

Hari ini saya email dan hubungi lagi petugas itu untuk memberikan ultimatum untuk tidak lagi menghubungi perihal menanyakan orang tersebut.

Sebenarnya
Semalam begadang dan gak ngantuk sama sekali karena otak lagi dipenuhi ide dan semangat untuk menambahkan fitur dalam web layanan usaha. Itu belum selesai 100% eh ini otak sudau dapet ide lagi untuk fitur lain, rasanya pingin eksekusi langsung, tapi untuk alur kerja yang sehat dan terfokus maka harus diselesaikan satu persatu dahulu sambil mematangkan strategi untukembuat fitur lainnya yang baru aja kepikiran.


Dikit-dikit disangka GPT hedeh
Lagi balesin postingan yang lewat di beranda orang nanya yang butuh jawaban serius dan butuh pertimbangan ekstra. Tiba-tiba, nemypil nih 1 anak bernama Nur Syarifudin yang saya duga ini akun cloningan dan second akun karena locked profile dan friendlist gak sesuai dengan keaktifannya di FB seperti screenshot ini
Yang bikin kesel tuh dengan netizen Indonesia di sosmed ya begini. Generasi Chat GPT menganggap tulisan orang yang panjang dan menguraikan penjelasan dengan EYD dan tanda baca yang tepat disangka hasil GPT atau AI Lain, padahal hasil tulisan apa yang ada dipikiran.

Jujur kadang suka gak habis pikir dengan orang yang model begini, hanya karena ia orang yang males baca tulisan panjang dan gak biasa nulis panjang-panjang maka suudzonnya tulisan panjang itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukan manusia normal, padahal, tidak begitu, dengan orang yang hobby mengetik, atau punya banyak ide, maka menulis panjang itu bukan hal yang sulit, apalagi orang yang WPM (word per minute) nya tinggi diatas 100 WPM, maka apa yang diomongkan bisa saat itu juga diubah jadi tulisan sama seperti orang ngedikte di pengadilan, atau jurnalistik, dimana apa yang dikatakan oleh sumber maka secepat itu juga berubah jadi tulisan.

Sebagai Informasi, saya yang memang hidup di dunia tulisan bahkan punya dedicated keyboard portable yang selalu saya bawa dimanapun saya berada, jadi begitu pingin balesin komen atau ngetik panjang, atau nyicip bikin buku ya tinggal satset.

Selain diatas, ada banyak metode lain yang saya gunakan untuk mengetik cepat terutama jika tidak menggunakan dedicated keyboard seperti disaat dalam keadaan khusus, tekniknya menggunakan Swype, geser-geser jadi kata dan kalimat, bahkan kalau apa yang akan diketik tidak perlu dimodifikasi maka saya menggunakan metode transkrip voice to teks (TTS).

Jadi, harapan kami para penulis serius yang panjang lebar, stop judge orang nulis panjang dengan ejaan yang benar dengan tuduhan GPT atau AI, padahal anda belum merasakan begitu enaknya ngeforum atau diskusi serius seperti di forum-forum luar yang nanyanya jelas, jawabannya juga jelas. Gak sekalian tuh tulisan di forum luar jawab dengnan tuduhan GPT
Tiba-tiba ngerasa kangen dan pingin makan model cek rom, dulu ia adalah tetangga yang jual didepan rumah, rasanya khas sendiri beda dengan model buatan pedagang lain, cuko dan kuahnya juga beda. 

Rasanya besok pingin beli walah ia udah pindah jualan, tapi rasanya masih sama gak ya dengan yang dulu? 🤔

Ngomongin model jadi kangen juga sama model yang dulu jualan depaj pesantren Ar Riyadh. Ini juga enak, dulu saya suka beli setengah dan ia boleh beli setengahan, mungkin karena target konsumennya adalah anak pondok pesantren yang mungkin harus berhemat, namun sayang beliau ini sudah gak jualan lagi, kabarnya udah berpulang 😭 alfatihah untuk beliau. 
🏠
☀️
🔍
📧
×

Hubungi Saya

0/3000