Akhir-akhir ini saya sering merasa kangen. Bukan kangen sama seseorang atau tempat tertentu, tapi kangen sama suasana era 2010 ke bawah. Entah kenapa, belakangan saya seneng banget nontonin orang live streaming main game Seal Online. Melihat karakter-karakter imut itu berlarian, mendengar backsound musik yang dulu pernah menemani malam-malam begadang, rasanya seperti kembali ke masa di mana segalanya terasa lebih sederhana dan hangat.


Cerita saya dengan Seal Online dimulai secara tidak sengaja. Waktu sering nongkrong di warnet depan salah satu kampus. Warnetnya sekarang sudah tutup, berganti jadi kedai kopi mungkin, tapi dulu tempat itu adalah surga kecil bagi remaja yang suka main game atau sekadar buka-buka internet. Suatu hari, saya yang sedang bosan karena cuma muter-muter di Mirc dan mengedit CSS profile Friendster, tanpa sengaja melihat deretan icon game online di desktop salah satu komputer. Ada RF, Ayodance, Ran Online, Seal Online, dan beberapa game lain yang sudah lupa nama persisnya.

Rasa penasaran muncul begitu saja. Saya klik icon Seal Online, mendaftar, dan mencoba masuk ke dalam game. Saat itu saya belum tahu apa-apa soal game ini, bahkan bisa dikatakan ini adalah game online PC pertama yang saya mainkan. Yang saya tahu, saya pernah melihat game Seal Online dimuat di majalah Gemstesion yang dulu saya pinjam dari teman. Di majalah itu, ada foto artis Marshanda sebagai brand ambassador-nya. Mungkin karena pernah lihat itu, tanpa sadar saya sudah punya gambaran kalau game ini cukup populer dan menarik.

Begitu masuk ke dalam permainan, saya langsung jatuh hati. Karakter di Seal Online itu paling imut dibanding game-game lain yang ada di warnet. Bentuknya chibi, proporsi kepala lebih besar dari tubuh, gerakannya lucu, dan ekspresi wajahnya menggemaskan. Lalu musik BGM-nya, saya masih ingat sampai sekarang, enak didengar dan bikin betah, bahkan pernah sampai saya bongkar folder seal untuk cari file bgm nya dan diburning di cd lalu diputar di vcd player. Iramanya riang, khas game-game bergaya anime, dan entah kenapa memberikan rasa nyaman yang sulit dijelaskan.

Awalnya saya hanya iseng, main sebentar kalau ada waktu luang di warnet. Tapi lama kelamaan, game ini mulai terasa berbeda. Saya jadi suka main setiap hari, bahkan kadang sampai lupa waktu. Bukan cuma karena karakternya imut atau musiknya enak, tapi juga karena komunitas di dalam game itu terasa sangat hidup. Player-nya ramai, saling sapa di chat, saling bantu saat hunting, dan ada rasa kekeluargaan yang kuat. Dulu tidak ada istilah voice chat seperti sekarang, yang ada cuma kotak teks, tapi justru dari situlah hubungan terbangun secara alami.

Kalau dipikir-pikir, pengalaman main Seal Online dulu rasanya mirip dengan anime-anime bergenre isekai yang lagi tren sekarang. Kita seperti benar-benar dibawa masuk ke dunia lain, menjadi karakter yang kita ciptakan, punya teman, punya musuh, punya cerita hidup di dalam game. Ada rasa dan perasaan yang terlibat. Kita tidak sekadar menekan tombol keyboard, tapi kita menjalani kehidupan kedua yang terasa nyata.

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika saya mulai serius main dan berhasil merasakan nikmatnya gajian dari hasil jualan pet, nilainya cukup fantastis senilai Rp800.000 untuk satu pet saja di kala itu. Rasanya bangga banget, karena bisa menghasilkan sesuatu dari hobi yang saya nikmati.

Saya juga masih ingat betul nama couple saya di game. Kami sering hunting bareng, saling bantu quest, dan ngobrol sampai larut malam di tengah map virtual. Lalu ada teman-teman guild yang selalu jadi sumber penghasilan receh saya. Mereka suka saya goda untuk membeli item dagangan saya. Kadang saya kasih harga sedikit lebih tinggi, tapi mereka tetap beli karena sudah teman. Itu semacam candaan yang menjadi kebiasaan sehari-hari.


Tangkapan layar dahulu. 


Pernah juga saya minta tolong pacar saya untuk online-in karakter saya semalaman hanya untuk afk mancing. Tujuannya biar dapat permata yang bisa dijual dengan harga lumayan. Kegiatan ini terdengar sepele, tapi bagi saya waktu itu itu adalah strategi serius untuk mengumpulkan modal. Dan saya juga tidak sungkan meminjamkan item kelas dewa saya kepada teman dan pasangan in game, agar mereka bisa hunting lebih enak dan cepat. Saya percaya mereka, dan mereka tidak pernah mengecewakan.

Yang paling saya ingat adalah ketika saya sedang diganggu saat hunting. Waktu itu ada player iseng yang suka mengganggu dan mencoba mengambil area hunting saya. Tapi begitu pasangan di game saya tahu, dia langsung manggil teman-temannya dan serombongan orang datang membantu saya. Mereka membela saya, mengusir pengganggu, dan memastikan saya aman. Rasanya seperti punya keluarga besar di dunia maya.

Melihat semua kenangan itu sekarang, saya sadar bahwa Seal Online bukan sekadar game. Itu adalah bagian dari masa muda saya. Di era di mana internet masih lambat, warnet masih menjadi pusat kehidupan sosial anak muda, dan Friendster masih menjadi medsos nomor satu, game-game seperti Seal Online menjadi jembatan pertemanan lintas kota, bahkan lintas pulau. Banyak teman yang tidak pernah saya temui secara fisik, tapi rasanya seperti kenal bertahun-tahun.

Sekarang, saat saya nonton live streaming Seal Online, saya bisa melihat wajah-wajah baru yang memainkan game yang sama, tapi di era yang berbeda. Rasa kangen itu muncul bukan karena saya ingin kembali ke masa lalu, tapi karena saya merindukan rasa sederhana dulu, di mana kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil, seperti dapat item langka, diajak hunting oleh teman guild, atau sekadar duduk-duduk di kota sambil ngobrol dengan pasangan in game.

Mungkin itulah kenapa saya terus nonton live streaming-nya. Bukan untuk main lagi, tapi untuk mengingat bahwa pernah ada masa di mana saya merasa memiliki dunia kedua yang begitu indah. Dan meskipun warnet itu sudah tutup, teman-teman di game sudah berpisah, dan karakter-karakter saya mungkin sudah tidak ada lagi, kenangan itu tetap hidup. Seal Online adalah salah satu warna paling cerah di masa muda saya. Dan sepertinya, sampai kapan pun, saya akan selalu kangen.