
Memang benar dan sudah tidak lazim pelamar dengan IPK tinggi dikalahkan dengan orang IPK rendah, bukan karena orang dalam, tapi ada banyak faktor lain.
Sebelumnya, HRD atau penerima kerja biasanya lebih memilih pengalaman, jika perusahaan yang butuh interaksi maka mereka lebih memilih attitude first terutama jika proses perekrutan walk interview, mereka akan menilai pelamar bukan dari cv, tapi dari proses pandangan mata saat dilokasi, bahkan saat tidak berinteraksi dengan pelamar, bagi perusahaan seperti ini ada alasan utama kenapa mereka melakukan itu, seperti dengan maksud pelamar bisa bekerja dengan team, menghargai atasan, dan baik berinteraksi dengan client. Bagi mereka urusan skill bisa di ajarkan, tapi tidak dengan attitude yang sulit diubah.
Selain itu alasan lain asalah Gaji dan menghargai posisi yang ia jabat saat ini, karena pelamar dengan IPK tinggi berharap akan gaji lebih besar dan bekerja di tempat bonafit tinggi, terlebih jika lulusan universitas ternama. Alasan ini juga yang membuat HRD menolak atau mengalahkan pelamar dengan IPK tinggi tau lulusan universitas ternama, karena memiliki kekhawatiran juga perusahaan dan posisi yang ia isi saat ini hanya dijadikan batu loncatan, sedangkan perusahaan lebih suka karyawan yang mengabdikan diri.
Alasan paling baru yakni IPK bukan lagi tolak ukur terlebih dizaman AI yang dimana orang dengan mudah mengakses jawaban, membuat makalah atau skripsi dengan sangat baik, hanya butuh diedit sedikit agar kesan penulisan manusiawi, artinya jawaban dan karya tulis bukan dari kemampuan dan pengetahuan siswa itu sendiri, contoh lain mungkin ada disekitar kita yang mungkin bukan lagi jadi rahasia umum kalau guru disekolah kasih nilai tinggi muridnya, ujian yang dikasih kisi-kisi dan praktik lain, tak heran nilai murid disekolah saat ini 80 saja sudah wajar, tapi ilmu yang mereka dapat jauh tidak relevan dengan nilainya seperti murid bimbel milik keluarga saya yang sudah SMA tidak bisa mengerjakan penjumlahan yang ada min plus nya seperti -3 + 5, ini berbeda dengan kualitas didik tahun 90an yang ujian tidak ada kisi, siswa dipaksa mengerti seluruh materi, ada proses tinggal kelas bagi yang tidak sesuai standar, nilai di raport adalah nilai murni yang diujian kan, bukan seperti saat ini nilai yang sudah di mark up guru dari tambahan nilai tugas harian bahkan perilaku dan bahkan diluar penilaian khusus lain kerap guru menambahkan saja nilainya agar standar naik kelas/lulus tanpa melihat faktor lain terhadap murid tersebut.
Hal ini juga diaminin oleh adik saya yang magang kuliah, ditempat ia magang ia mendengar HRD bilang "pelamar zaman sekarang jangan dilihat dari IPK, pasti gede semua, udah gak bisa dijadikan tolak ukur".
Jadi, kesimpulannya jangan heran jika mendapati IPK besar lulusan kuliah ternama justru banyak yang masih belum bekerja
